Pengertian Hadits Dan Jenis-jenis Hadits

Menurut bahasa hadits berasal dari kata bahasa arab yang berarti ucapan, baru atau kabar. Artinya hadits merupakan sesuatu yang di sampaikan seseorang kepada orang lain. Menurut istilah hadits merupakan segala sesuatu yang berasal dari nabi Muhammad baik itu perkataan, perbuatan, ataupun sifat nabi.

Pengertian Hadits

pengertian hadits

www.slideshare.net

Hadits merupakan suatu perkataan, perbuatan, persetujuan, atau ketetapan nabi Muhammad SAW yang dijadikan sebagai hukum atau ketetapan dalam agama islam. Selain hadits ada juga sumber hukum lain yang menjadi ketetapan hukum dalam islam seperti Al-Quur’an, Ijma, dan Qiyas. Diantara tiga hukum tersebut Hadits menjadi sumber hukum paling utama nomor dua sesudah Al-qur’an.

Fungsi Hadits

pengertian hadits

brainly.co.id

Menurut ajaran agama islam fungsi hadits terbagi menjadi tiga:

  • Fungsi hadits yang paling utama ialah sebagai penjelas terhadap hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an. Jika ada suatu hukum islam dalam Al-Qur’an yang di jelaskan kurang signifikan maka haditslah yang akan menjadi pedoman dalam menjelaskan hukum tersebut.

Sayangnya ada sebagian kelompok orang yang tidak mau menggunakan hadits sebagai rujukan, dan menggunakan Al-Qur’an saja menjadi hukum mutlak dalam hukum islam. Mereka beralasan tidak semua hadits benar, banyak hadits yang palsu dan sebagainya.

Sampai sebagian ulama berpendapat,  maka dari mana mereka mengerti tentang berapa jumlah rakaat dalam shalat jika tidak dengan hadits. Faktanya tidak ada keterangan pasti dalam Al-Qur’an mengenai jumlah rakaat shalat, mengenai berapa kali seseorang melakukan thawaf dan sebagainya.

Seperti apa yang kita ucapkan dalam dua kalimat syahadat bahwa “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Dan aku bersaksi nabi Muhammad utusan Allah.”

Dari pernyataan diatas kita mengerti bahwa syarat diterimanya ibadah kita salah satunya adalah dengan mempercayai bahwa nabi Muhammad adalah rasulullah. Maka mustahil seorang muslim bisa meninggalkan hadits.

  • Yang kedua adalah, hadis merupakan pendukung hukum yang sudah tercantum dalam Al-Qur’an. Seperti misal hukum riba yang diharamkan yang sudah tertera dalam Al-Qur’an.

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS.Al-Baqarah:275)

Yang kemudian dipertegas kembali oleh Rasulullah dengan sabdanya.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

dari Jabir dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya dan saksi-saksinya.” Dia berkata, “Mereka semua sama.” (HR. Muslim)

  • Yang ketiga adalah, hadist merupakan sumber hukum islam. Hadits merupakan sumber hukum islam utama nomor dua setelah Al-Qur’an. Banyak hadits yang menjelaskan tetang suatu hukum yang tidak disebutkan melalui Al-Qur’an. Jika tidak ada penetapan hukum dalam Al-Qur’an  mengenai suatu hal, maka haditslah yang akan menjadi sumber hukum kedua yang menjadi rujukan. Para ulama sepakat kedudukan hadits adalah sumber hukum kedua selepas Al-Qur’an. Dan fungsi hadits adalah untuk penjelas dan penguat dalam suatu hukum yang sudah tercantum dalam Al-Qur’an, serta sebagai hukum yang ditetapkan yang tidak tercantum dalam Al-Qur’an.

Faktor Penting dalam hadits

pengertian hadits

www.slideshare.net

Perlu kita ketahui ada dua hal penting dalam sebuah hadits yang disebut dengan sanad atau isnad dan matan. Kemudian pertanyaan adalah, apakah sanad dan matan itu?

Sanad

Sanad merupakan rentetan orang yang meriwayatkan atau menyampaikan hadits yang dimaksud. Yang disebutkan mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut hingga sampai langsung kepada rasulullah. Contoh :

“Qutaibah bin Sa’id telah menyampaikan hadits pada kami. Abd al-Wahab memberitakan pada kami. Dia berkata: Saya mendengar yahya bin Sa’id yang mengatakan: Muhammad bin ibrahim telah memberitahu bahwa ia mendengar Alqamah bin Waqas al-Laytsi berkata: Aku mendengar Umar bin al-Khathab berkata: Saya dengar rasul SAW bersabda: Sesungguhnya amal itu dengan niyat. Sesungguhnya bagi setiap orang tergantung pada yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya pada Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya untuk kepentingan dunia, atau yang hijrahnya karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diharapkannya.”

Berbeda dengan sanad, ada juga seorang yang disebut sebagai perawi. Rawi merupakan seorang yang menyampaikan sebuah hadits. Berikut beberapa ciri ideal seorang perawi antara lain:

  • Tidak pernah berdusta serta tidak pernah dicurigai sebagai pendusta
  • Terkenal sebagai seorang yang selalu teliti
  • Bukan termasuk orang yang fasik
  • Bukan termasuk orang yang sering bimbang
  • Bukan termasuk orang yang suka menambah-nambah dalam hal beribadah atau ahli bid’ah.
  • Termasuk orang yang kuat ingatannya/ kuat dalam hafalannya
  • Tidak banyak berbeda pendapat dengan perawi-perawi yang kuat.
  • Dikenal oleh paling tidak dua orang pakar hadits pada zaman itu

 

Matan

Matan adalah arti atau maksud dari sebuah hadits, contoh :

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at” (HR. Muslim no.  720).

Hadits diatas bermatan atau mempunyai arti bahwa setiap kita dianjurkan untuk bersedekah di pagi hari dengan cara menjalankan shalat dhuha. Atau bisa diartikan juga bahwa siapa yang shalat diwaktu dhuha sama halnya dia telah bersedekah.

Jenis-Jenis Hadits Berdasarkan Tingkat Keasliannya

pengertian hadits

nanohamdhy.wordpress.com

Untuk mengambil suatu hukum yang berdasarkan hadits para ulama sangatlah berhati-hati karena tidak semua hadits itu benar. Sayangnya, terdapat banyak sekali hadits palsu yang sangat familiar di kalangan khalayak ramai. Seperti:

النَّظَافَةُ مِنَ الإِيمَانِ

Artinya : “Kebersihan (adalah) bagian dari pada iman”

 

Menurut tingkat keasliannya para ulama sepakat bahwa hadits ini palsu, namun hadits ini sangatlah populer dikalangan masyarakat. Berikut beberapa jenis hadits menurut tingkat keasliannya.

Hadits Shahih

Hadits shahih merupakan hadits yang sudah pasti benar dan tidak diragukan lagi tingkat keasliannya. Hadits bisa dikatakan shahih jika memenuhi beberapa syarat berikut :

  • Sanad nya bersambung dalam arti tidak terputus antara satu dengan yang lainnya.
  • Di riwayat oleh para perawi yang terjaga (kehormatannya), kuat ingatannya, adil, istiqomah, dan berakhlak baik.
  • Perawi yang menerima hadits tersebut sudah mencukupi umur atau baligh
  • Isi kandungan hadits tersebut tidak bertentangan dan tidak terdapat sebab tersembunyi yang dapat menjadikan hadits tersebut menjadi cacat.

Hadits Hasan

Tingkatan hadits hasan nyaris sama baiknya dengan hadits shahih. Tapi biasanya terdapat kelemahan pada perawi hadits tersebut yang tidak terlalu baik ingatannya.

Hadits Dho’if

Hadits dhoif merupakan hadits yang lemah tingkat keasliannya. Berdasarkan sanad, hadits tersebut tidak saling menyambung antara satu dengan yang lain. Terdapat periwayat yang tidak baik ingatannya bahkan mungkin pembohong. Atau ditemukan isi hadits/matan yang tidak sesuai. Oleh sebab hal tadi hadits dhoif tidak bisa dijadikan sebagai sumber penetapan suatu hukum.

Hadits Maudhu

Hadits maudhu merupakan hadits yang  disinyalir sebagai hadits bohong atau palsu. Hadits bisa dikatakan maudhu ketika ditemukan ada periwayat pembohong, isi yang bersebrangan dengan Al-Qur’an, atau terdapat bahasa yang tidak baik dan tidak masuk akal. Seperti contoh :

الْحَدِيْثُ فِي الْمَسْجِدِ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ الْبَهَائِمُ الْحَشِيْشَ

Artinya : “Percakapan dalam masjid akan memakan/menghapus (pahala) kebaikan seperti binatang ternak yang memakan rumput.”

Menurut imam Al-Albani hadits di atas merupakan hadits yang palsu dan tidak mempunyai rujukan yang jelas.

Jenis Hadits Berdasarkan Penyampainya

pengertian hadits

www.slideshare.net

  • Hadits Mutawattir

Hadits bisa dikatakan mutawathir ketika hadits tersebut diriwayatkan oleh beberapa orang alim dan dapat dipercaya sehingga tidak mungkin hadits ini bohong atau palsu.

  • Hadits Ahad

Hadits bisa dikatakan Ahad ketika hadits tersebut disampaikan oleh satu orang saja. Atau di sampaikan oleh lebih dari satu orang tapi tidak memenuhi syarat sebagi hadits mutawathir.

Hadits Qudsi

pengertian hadits

www.slideshare.net

Kalian pasti sudah familiar dengan istilah hadits Qudsi yakan? Hadits Qudsi merupakan wahyu dari Allah yang Allah sampaikan kepada rasulullah dan langsung rasul sampaikan kepada para sahabatnya.. Akan tetapi hadits ini tidak termasuk kedalam bacaan Al-Qur’an.

Mengenal Para Ahli Hadits Yang Sangat Populer

pengertian hadits

www.republika.co.id

Ahli hadits merupakan orang yang mengerti tentang hadits, mereka ingat ribuan hadits diluar kepala. Para ahli hadits mengetahi sanad haidts-hadits yang diingatnya sampai langsung kepada rasulullah. Mereka jugalah yang mengkelompokkan mana hadits yang shahih dan mana hadits yang dho’if. Mereka digelari sebagai mudawwin atau mukharrij. Berikut beberapa nama ahli hadits yang sudah masyhur dengan kitabnya.

  • Imam bukhari dengan kitabnya shahih bukhari
  • Imam Muslim dengan kitabnya shahih Muslim
  • Imam Abu Dawud dengan kitabnya sunan Abu Dawud
  • Imam At-Turmudzi dengan kitabnya sunan At-Turmudzi
  • Imam An-Nasa’i dengan kitabnya sunan An-nasai
  • Imam Ibnu Majah dengan kitabnya sunan Ibnu Majah
  • Imam Ahmad bin Hambal atau biasa dikenal dengan imam Hambali dengan kitabnya musnad Ahmad
  • Imam malik dengan kitabnya muwatta Malik
  • Imam Ad-darimi dengan kitabnya Ad–sunan Darimi

Itulah sedikit pengetahuan yang bisa admin bagikan untuku kalian semua. Semoga bisa menjadi tambahan iman untuk kita semua aminnn.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Leave a Reply