Pengalaman Ketika Masih Duduk Di Bangku Sekolah

Sekolah adalah tempat untuk menimba ilmu di mana sebagian orang sampai harus membayar mahal untuk bisa masuk disekolah yang diinginkan. Dengan harapan bisa menjadi orang yang berhasil diesok hari. Banyak anak yang berhasil mengukir prestasi dengan bersekolah.

Namun tidak sedikit anak malah sebaliknya Mereka bersikap seenaknya sampai terkadang mereka harus di keluarkan dari sekolah. Memang bukan waktu yang singkat untuk lulus setingkat SMA ( sekolah menengah atas ) saja seorang anak harus menempuh sekolah selama 12 tahun.

Sehingga sebagian dari mereka terkadang harus berpindah ke beberapa sekolah untuk menyelesaikan pendidikan sekolahnya. Pasti banyak sekali cerita yang tercipta pada masa-masa sekolah entah itu cerita baik maupun cerita buruk.

SDN Kubangsari

masa-masa sekolah

Saat SD ( sekolah dasar) saya termasuk anak yang lemah. Oleh karena itu saya merasa  sewaktu SD adalah masa-masa yang tidak menyenangkan. Saya merasa di tindas, ada seorang anak yang selalu menyuruh saya melakukan apa saja yang dia inginkan Mulai dari menggendong di pukul sampai tidak jarang saya menangis dibuatnya.

Sampai-sampai saya harus dijaga salah satu teman lainnya agar saya merasa aman saat berada di sekolah. penderitaan itu berakhir saat saya duduk di kelas tiga. Mungkin karena sudah terlalu lama entah mengapa saat itu saya berani memberontak dan sejak itu saya tidak di perbudaknya lagi.

Alhamdulillah kelas lima SD  saya mengukir prestasi di bidang olahraga dengan berhasil menjuarai por seni catur tingkat desa J sayang perjuangan saya harus terhenti sampai di situ saja karena gagal juara di tingkat kecamatan.

Saya tidak termasuk murid yang cerdas saya tidak pernah mendapatkan predikat sebagai juara kelas tapi bersyukur saya pernah diikut sertakan mengikuti lomba cerdas cermat di sekolah.

Saat kelas lima juga saya sering terpilih memimpin teman-teman untuk mengikuti kejuaraan gerak jalan di berbagai kompetisi. Yaah walaupun gak pernah menanggg heheheheeee.

Setelah selesai menjalani sekolah dasar selama enam tahun saya berhasil lulus dengan masuk 30 besar dari 32 murid yang ada. Konon katanya saya adalah seorang cucu ulama besar di daerah banyumas tempat bapa saya berasal.

MTS As-Salafiyah

masa-masa sekolah

Sebab itu menjelang masuk SMP ( sekolah menengah pertama ) saya diarahkan untuk mondok agar bisa mempelajari ilmu agama dengan baik. Akhirnya saya melanjutkan pendidikan smp di pondok pesantren as-salafi tepat nya di daerah desa karang anyar kecamatan krangkeng kabupaten indramayu.

Ini pertama kalinya saya hidup jauh dari orang tua disana saya menemukan teman baru dan Susana yang baru. Sempat beberapa hari murung karena ingin pulang setelah agak lama sayapun akhirnya bisa menyesuaikan diri dengan orang-orang di sana.

Di ponpes as-salafi saya dilatih berbagai macam ketrampilan seperti hadroh drumband dan berceramah. Al-hasil saya bisa ikut mengisi acara khataman tahunan di ponpes dengan berceramah.  Dan itu adalah pengalam pertama saya tampil di depan ratusan pasang mata.

pengalaman itu masih membekas jelas dalam ingatan saya. Dengan rasa bangga saya menyampaikan.

Alhamdulilah, alhamdulilahirabbil alamin wabihiinastain waala umuriddunyawaddin wa salatu wa salamu ala asrafil ambiyai walmursalin amma ba’du. Pertama marilah kita bersyukur ke hadirat allah subhanahu wataala yang sudah memberikan kita banyak sekali nikmat.

Yang apabila kita manusia bermaksud untuk menghitung maka kita semua tidak akan mampu untuk menghitungnya.  Tak lupa pula shalawat serta salam marilah kita sampaikan baginda besar nabi muhamad saw.

Yang telah merubah umat manusia dari zaman jahilia sampai zaman iss dahlia dari zaman onta sampai zamannya mobil Toyota. Begitulah kira-kira sedikit gambaran pembukaan ceramah saya waktu itu.

semenjak hari itu saya menjadi gemar belajar berceramah namun sayang setelah saya sudah merasa nyaman saya sempat memiliki problem dengan salah satu santri disana yang merupakan keponakan kyai yang membuat saya tidak betah berada disana. Tidak bertahan lama akhirnya saya memtuskan untu berpindah sekolah.

Islamic Boarding School Daarul Mughn Al-Maaliki

daarul mughni

Masih seputar pondok pesantren dengan kegagalan yang pertama di krangkeng orang tua saya masih berharap saya menjadi orang yang faham tentang agama akhirnya saya bergabung di Islamic boarding school daarul mughni al-maaliki.

Tepatnya di klapanunggal kabupaten bogor berada jauh  dari permukiman warga pondok pesantren ini mempunyai system keamanan yang sangat baik sehingga para santri tidak bisa kabur dengan seenaknya.

Banyak sekali keunggulan dalam system belajar di podok pesantren ini salah satunya dalam pembelajaran Bahasa. Seluruh anggota ponpes di wajibkan menggunakan Bahasa arab dan Bahasa inggris dalam berbahasa sehari-hari.

Satu minggu menggunakan Bahasa arab satu minggu kemudian berbahasa inggris dan selalu begitu seterusnya. Barang siapa tidak mematuhi peraturan tersebut akan mendapatkan hukuman. Mulai dari di cubit di bagian dada sampai direndam dikolam yang berada di depan kamar para santri.

Di ponpes ini biasanya dari pendaftaran murid di kelas satu yang bisa mencapai 500 orang yang berhasil bertahan sampe jadi alumni gak lebih dari dua puluhan orang saja. Bagaimana tidak kegiatan di ponpes ini memang sangat ketat hampir setiap waktu dari pagi sampai malam di sibukkan dengan kegiatan ibadah dan belajar.

masa-masa sekolah

Mulai dari bangun pukul 02:00 malam untuk ibadah shalat tahajud sampai adzan subuh. Di lanjut dengan shalat shubuh lalu mengkaji kitab kuning selesai sampai pukul 06:00 pagi. Lalu mandi sarapan pukul 07:00 sudah harus masuk sekolah

Lalu mengikuti kegiatan extra kulikuler dengan banyak pilihan seperti tilawah al-qur’an ceramah hadroh marawais dan masih banyak lagi.  Sampai tiba waktu ashar pukul 15.30  kemudian di isi mengkaji kitab sesuai dengan tingkatan kelasnya sampai maghrib.

Selesai shalat maghrib sambil menunggu shalat isa waktu luang di isi dengan belajar ilmu al-qur’an mulai dari tajwid sampai ilmu tafsir. Ba’da isya seluruh santri di larang langsung tidur kami semua masih harus mengikuti kegiatan belajar bersama di masing-masing kelas sampai pukul 10:00 malam.

Barang siapa yang tertidur di dalam kegiatan belajar selain di bangunkan dengan cara yang cukup menyakitkan terkadang kami harus di foto dalam keadaan tertidur yang kemudian foto tersebut akan di pajang di madding santriwan dan santriwati.

Gak cukup sampe di sini kami juga harus menyetorkan hafalan dari berbagai pelajaran yang bila di total dalam sehari bisa mencapai 20 hafalan lebih. Apabila bila tidak hafal berarti satu hafalan di hukum dengan satu cubitan di bagian dada.

Di mana rasa sakit cubitan itu tidak boleh di ekspresikan dengan suara auwwwww tapi harus di jawab dengan kata-kata ajibbbbb. J sebelum keluar kata-kata ajibbbb ustadz tidak akan melepaskan cubitannya.

Walaupun dengan metode belajar yang terbilang cukup berat nyatanya daarul mughni al-maaliki berhasil melahirkan ustad-ustad yang siap untuk diterjunkan langsung ke masyarakat. Setelah 6 bulan di kota hujan keaadaan saya sedikit memburuk saya terkenapenyakit yang bernama cenang.

Menurut para santri di sana terkena penyakit cenang adalah hal yang lumrah hampir semua santri di sana pasti pernah merasakannya. Konon siapa yang belum pernah terkena penyakit tersebut maka belum bisa/belum sah di katakan sebagai santri walaupun sudah cukup lama berada di pesantren.

Penyakit cenang adalah penyakit yang membuat penderitanya mengalami bentol yang cukup besar di bagian tangan yang berisi air nanah dengan rasa sakit yang cukup lumayan. Barang siapa pulang untuk proses penyembuhan penyakit cenang ketika dia kembali di pesantren maka penyakit itu akan kembali.

Penyakit ini jugalah yang membuat saya tidak mampu bertahan di ponpes daarul mughni al-maaliki. Setelah sekitar 3 minggu menderita sakit cenang saya akhirnya memutuskan untuk pergi dari lingkungan ponpes secara diam-diam.

Karena pergi dengan cara kabur saya harus pulang dari bogor menuju indramayu seorang diri pada malam hari. Bukan di kasihani sesampai di rumah saya malah dimarahi oleh orang tua agar mau kembali. Namun tetap saja usaha itu gagal saya masih saja berkeinginan untuk melanjutkan sekolah di indramayu.

MTs Nurul Hikmah

mts nurul hikmah

Karena keluaran ponpes yang notabennya adalah sekolah islam di haurgeulis tempat saya tinggal sayapun di rekomendasikan untuk melanjutkan di MTs Nurul Hikmah yang juga  notaben adalah sekolah islam.

Alih-alih sebagai keluaran pondok pesantren bukan menjadi pribadi yang baik saya malah di kenal sebagai anak yang nakal. Di haurgeulis saya malah terjerumus dalam pergaulan yang sangat memprihatinkan.

Sehingga di sekolah saya menjadi anak yang suka berkelahi pemalas dan sering melawan kepada guru. Kebiasaan tersebut bahkan sampai terbawa di kehidupan sehari-hari sampai saya harus berurusan dengan pihak yang berwajib. Setelah terdengar berkelahi dengan murid dari sekolah lain sayapun di keluarkan dari sekolah.

Sontak hal itu membuat saya terpukul saya mendatangi rumah kediaman setiap guru untuk memohon agar saya bisa melanjutkan sekolah lagi. Usaha itu membuahkan hasil saya di izinkan bersekolah lagi dengan syarat harus pindah ke sekolah yang tidak berada di kecamatan haurgeulis.

MTs Ma’arif Miftahul Huda

Setelah sempat mengunjungi beberapa sekolah karena pindahan sekolah swasta tidak diizinkan pindah disekolah negeri akhirnya saya diterima di MTs ma’arif miftahul huda lempuyang anjatan.

Bermodal surat kelakuan baik yang dibuatkan sekolah dengan alasan orang tua pindah tempat tinggal di daerah wanguk saya bisa diterima bersekolah disana. walaupun harus menempuh jarak yang cukup jauh hargeulis – anjatan selama satu tahun alhamdulilah saya berhasil mendapatkan certifikat lulus dari sekolah lempuyang itu.

SMK Muhamadiyah Hauurgeulis

smk muhamadiyah

Setelah lulus madrasah tsanawiyah saya melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya yaitu SMK ( sekolah menengah kejuruan ). Karena terdengar lebih menantang saya menjatuhkan pilihan saya untuk melanjutka sekolah di SMK muhamadiyah haurgeulis yang hampir 95% muridnya adalah laki-laki.

Terlanjur bergaul dengan orang yang lebih dewasa di lingkungan rumah disekolah saya lebih banyak berdiam diri tidak tertarik bergaul dengan teman-teman yang sebaya dengan saya.

Di seumuran SMK ini saya bergaul dengan jangkauan yang lebih luas lagi seperti bergabung dengan comunitas atau perkumpun-perkumpulan anak muda. Terlalu asik dengan pergaulan diluar menurunkan semangat belajar saya di sekolah.

Dampaknya absensi kelas tidak terisi dengan baik karena sering bolos dan tidak masuk kelas setelah selama satu tahun disana saya dinyatakan tidak naik ke kelas 2 TKR. Terulang kembali seperti halnya sewaktu masih duduk dibangku tsanawiyah saya meminta berpindah sekolah agar bisa naik kelas.

SMK Mandiri Haurgeulis

smk mandiri

Kali ini di SMK madiri pelabuhan sekolah saya selanjutnya menjelang satu minggu ujian saya dipindahkan. Tanpa menjalani kegiatan belajar sedikitpun saya langsung mengikuti kegiatan ujian akhir sekolah.

Belum genap satu bulan bersekolah disana saya kembali berbuat ulah bukan dikeluarkan dari sekolah karena malu dengan apa yang saya perbuat saya tidak mau lagi masuk sekolah.

Sekarang umur saya sudah 23 tahun banyak pengalaman yang sudah saya lalui. Andai saja dulu saya mengerti betapa pentingnya sekolah saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Mungkin banyak orang yang berhasil tanpa sekolah namun tetap saja pasti akan ada perbedaan antara orang yang berpendidikan dengan orang yang tidak menempuhnya.

Begitu pentingnya ilmu sampai-sampai agamapun sangat menekankan hal ini. Rasulullah bersabda :

“ Menuntut ilmu itu hukumnya wajib untuk muslim laki-laki dan muslim perempuan “

Tidak ada kata terlambat untuk mencari ilmu sekarang untuk mengejar ketertinggalan saya mengikuti kegiatan belajar paket c di yayasan PKBM al-fajar kertanegara haurgeulis.

smk mandiri

“ Kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan tingginya ilmu seseorang. Bukan terletak pada wajah dan pakaiannya. ”

Buya Hamka

Leave a Reply